Jalan akan menghipnotis pola drainase bagian atas serta bawah permukaan alami berasal DAS atau lereng bukit individu. Desain drainase jalan intinya mempunyai tujuan pengurangan dan /atau penghapusan tenaga yang didapatkan sang air yang mengalir. Kekuatan destruktif asal air yg mengalir, sebagaimana dinyatakan dalam Bagian tiga.2.2, meningkat secara eksponensial seiring menggunakan peningkatan kecepatannya. sang sebab itu, air tidak boleh dibiarkan membuatkan volume atau kecepatan yang relatif sebagai akibatnya menyebabkan keausan yang berlebihan di sepanjang parit, pada bawah gorong-gorong, atau pada sepanjang permukaan sirkulasi, potongan, atau timbunan yg terbuka.
Penyediaan drainase yang memadai sangat krusial pada desain jalan serta tidak bisa dilebih-lebihkan. Adanya kelebihan air atau uap air pada dalam jalan raya akan mensugesti sifat-sifat teknis material yang digunakan buat membangunnya. Kegagalan potong atau timbunan, erosi permukaan jalan, serta tanah dasar yang melemah diikuti menggunakan kegagalan masal adalah produk dari drainase yg tidak memadai atau dibuat menggunakan jelek. seperti yg sudah dinyatakan sebelumnya, poly dilema drainase bisa dihindari di lokasi dan desain jalan: Desain drainase paling sempurna dimasukkan dalam perencanaan alinyemen serta kemiringan.
Faktor geomorfologi lereng bukit dan hidrologi merupakan pertimbangan krusial dalam menentukan lokasi, desain, serta konstruksi jalan. Morfologi lereng berdampak di drainase jalan dan pada akhirnya stabilitas jalan. Faktor penting merupakan bentuk lereng (seragam, cembung, konkaf), kemiringan lereng, panjang lereng, ciri drainase sungai (misalnya, jalinan, dendritik), kedalaman batuan dasar, ciri batuan dasar (misalnya retakan, kekerasan, perlapisan), serta tekstur tanah dan permeabilitas. Bentuk lereng (Gambar 59) menyampaikan tanda konsentrasi atau dispersi air bagian atas dan bawah permukaan. Lereng konveks (contohnya, punggung bukit yg lebar) akan cenderung membuatkan air waktu beranjak menuruni bukit. Lereng lurus memusatkan air pada lereng yang lebih rendah dan berkontribusi pada penumpukan tekanan hidrostatik. Lereng konkaf umumnya menunjukkan sengkedan serta tarikan. Air di daerah ini terkonsentrasi di titik terendah pada lereng dan sebab itu mewakili lokasi yg paling tidak diinginkan buat sebuah jalan.
Faktor hidrologi yang perlu dipertimbangkan pada memilih lokasi jalan merupakan jumlah penyeberangan sungai, kemiringan sisi, dan rezim kelembaban. misalnya, pada titik terendah pada lereng, hanya satu atau dua penyeberangan sungai yg mungkin diharapkan. Demikian juga, lereng samping umumnya tidak terlalu curam, sehingga mengurangi jumlah ekskavasi. tetapi, persyaratan penimbunan cor samping serta drainase perlu diperhatikan dengan cermat sebab air yg dikumpulkan berasal posisi atas pada lereng akan terkonsentrasi pada posisi bawah. Secara awam, jalan yang dibangun pada 1/3 bagian atas suatu lereng memiliki syarat kelembaban tanah yang lebih baik serta, sang sebab itu, cenderung lebih stabil daripada jalan yg dibangun pada posisi yang lebih rendah di lereng tadi.
ciri drainase alami lereng bukit, menjadi suatu peraturan, tidak boleh diubah. misalnya, jaringan drainase akan berkembang selama badai buat memasukkan depresi terkecil dan menarik untuk mengumpulkan dan mengangkut limpasan. oleh sebab itu, gorong-gorong harus ditempatkan pada setiap penarikan agar tidak menghalangi disposisi alami sirkulasi badai. Gorong-gorong wajib ditempatkan pada kemiringan dan sejajar dengan garis tengah saluran. Kegagalan untuk melakukan hal ini seringkali mengakibatkan erosi tanah yg hiperbola di atas serta di bawah gorong-gorong. Selain itu, puing-puing tidak dapat lewat dengan bebas melalui gorong-gorong yg mengakibatkan penyumbatan serta tak jarang menghambat prisma jalan. sirkulasi hulu menjadi perhatian spesifik (titik A, Gambar 60) sebab umumnya diklaim bahwa aliran terukur tidak dapat didapatkan asal area pengumpulan kelembaban di atas penyeberangan. tetapi, sedikit atau tidak terdapat drainase pada persimpangan jalan pada daerah ini terkenal mengakibatkan longsoran besar serta sirkulasi puing-puing, terutama Jika terletak pada lereng cembung.
Peningkatan risiko kegagalan jalan terjadi di titik A dan B. di titik A, air akan menggenang pada atas timbunan jalan atau mengalir ke bawah lereng melalui parit pinggir jalan ke titik B. Penggenangan pada A bisa menyebabkan melemahnya serta/atau erosi tanah dasar . Bila gorong-gorong pada sirkulasi 1 menyumbat, air dan kotoran akan mengalir ke titik A dan asal A ke B. sang karena itu, gorong-gorong pada B menangani debit asal ketiga peredaran tersebut. Bila didesain menggunakan spesifikasi minimum, tak mungkin baik parit atau gorong-gorong pada B bisa secara efisien membuang peredaran dan puing-puing berasal ketiga sirkulasi yg mengakibatkan luapan serta kemungkinan kegagalan jalan di titik B.
Gambar 59. Bentuk lereng dan dampaknya terhadap hidrologi lereng. Bentuk lereng memilih apakah air beredar atau terkonsentrasi. (Dinas Kehutanan AS, 1979).

