Infrastruktur adalah salah satu hal yg sangat penting dalam upaya pembangunan serta galat satunya adalah penggunaan material paving pada trotoar. Ketersediaan infrastruktur yang baik sangat membantu terlaksananya tujuan pembangunan ekonomi. Pembangunan trotoar artinya galat satu infrastruktur buat menunjang kegiatan masyarakat berjalan kaki. Trotoar masih dianggap sebelah mata pada prioritas pembangunan karena diklaim menjadi infrastruktur pendukung dan pelengkap jalan. Sedangkan prioritas pembangunan mengutamakan pengembangan moda tunggangan bermotor sehingga infrastruktur pejalan kaki terlupakan. Padahal trotoar artinya kaki pejalan kaki yg penting. kiprah pemerintah terkait dengan penyediaan akses serta sarana perlindungan pejalan kaki berasal aktivitas PKL sebab dapat menghambat keamanan, ketenangan dan kemanusiaan masyarakat pengguna. Integrasi jalur pejalan kaki menggunakan tata letak bangunan, aksesibilitas antar lingkungan, serta sistem transportasi agar terwujud dengan baik pada tahap pembangunan di masa mendatang. Hal-hal tadi tentunya perlu menerima penanganan berasal pemerintah buat lebih memperhatikan pembangunan perkerasan tepi jalan yg lebih bermanfaat sinkron peruntukannya. Selama ini paving digunakan sebagai infrastruktur trotoar. Selama ini Paving tak tembus / kurang respon terhadap air sebagai akibatnya simpel rusak. Selama ini paving didesain dari adonan beton berupa pasir, semen, agregat serta dicampur menggunakan air. Penggunaan material pengganti agregat masih sporadis dipergunakan, termasuk penggunaan material sisa . [10] Sri Wiwoho Mudjanarko, 2016, melakukan penelitian paving memakai agregat bambu (uji kuat tekan perkerasan komposit bambu). Diperoleh akibat penelitian diperoleh kuat tekan terbesar 192,29 menggunakan penggunaan agregat bambu 60% serta memenuhi standar mutu SNI B. [6] M. Riang Endarto serta M. Heri Zulfiar, 2010, dalam penelitiannya berkata bahwa semakin akbar persentase agregat bambu dalam campuran beton, maka nilai bertenaga tekannya akan semakin rendah. Nilai bertenaga tekan homogen-rata terkecil sebanyak lima,9 MPa yg terjadi di agregat bambu 100% di agregat split konvensional. [3] Bangkit T., T, 2015, melakukan penelitian pendahuluan di paving beton Tembus dengan bertenaga tekan homogen-rata 28 hari Beton tembus menggunakan kode B1 105,11 Kilo Gram / cm2 serta B2 100,30 Kilo Gram / cm2 memenuhi baku paving kelas D menggunakan batas berat homogen-rata 100 KG/cm2 buat taman jalan. serta memiliki porositas/drain rate sebesar 247,37 serta 226,76 ltr/mnt/m2.[7] Mokhammad Farid Ma’ruf, 2012, menyebutkan bahwa bertenaga geser zenit tanah akar bambu semakin tinggi seiring menggunakan meningkatnya rasio volume akar tanah. korelasi mereka dapat didekati secara linier. Meskipun rasio volume akar-ke-tanah diselidiki hanya 5%, rasio zenit daya zenit meningkat menjadi 55%. (Hasilnya menunjukkan bahwa kekuatan geser zenit akar bambu yg diperkuat akan meningkat menggunakan meningkatnya rasio volume akar tanah.) Meskipun rasio volume tanah-akar yg diselidiki hanya sampai 5%, itu membuat hingga 55% tambahan kekuatan geser puncak ). Bambu memiliki beberapa keterbatasan yaitu seratnya kaku serta praktis terserang fungi dan serangga. berasal keterbatasan serat bambu tadi penulis ingin mengetahui sejauh mana serat bambu ini dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pada pembuatan paving block. tidak hanya serat bambu dalam penelitian ini penulis pula memamfaatkan fly ash. mirip yang kita ketahui bahwa fly ash tak jarang dimanfaatkan pada penelitian, khususnya penelitian di bidang konstruksi. Fly ash didapatkan berasal Ash/sisa pembakaran batubara yg membuat sisa yg dianggap fly ash.

