Produksi minyak sawit merupakan keliru satu industri primer pada Thailand Selatan. Saat ini, sisa pabrik kelapa sawit: terutama tandan kosong kelapa sawit, serat kelapa sawit, & cangkang sawit sudah didapatkan secara akbar -besaran [1]. Selain itu, pabrik ini membuat limbah cair pada jumlah yg signifikan. Limbah cair pabrik kelapa sawit menurut proses produksi kelapa sawit bisa dimanfaatkan nir hanya menjadi bahan pakan ternak atau pupuk namun pula sebagai listrik menggunakan mengubahnya sebagai biogas. Di pabrik kelapa sawit, sisa ini biasanya dikirim ke boiler buat dibakar menjadi bahan bakar pembangkit uap atau dipakai buat pengurangan konsumsi tenaga (solar atau listrik). Namun, proses ini nir ramah lingkungan lantaran membuat emisi asap & debu dampak pembakaran yg nir sempurna. Residu biomassa menurut pengolahan kelapa sawit berpotensi dipakai menjadi asal tenaga terbarukan menggunakan konversi sebagai biofuel atau produk bio lainnya. Penggunaan biomassa pada bentuk produk tenaga lain lebih menguntungkan daripada pembakaran pribadi biomassa lantaran nir melepaskan polutan ke udara. Salah satu teknik potensial buat mengurangi perkara lingkungan ini merupakan menggunakan mengganti sisa minyak sawit sebagai biochar melalui proses pirolisis. Pirolisis merupakan proses anaerobik menurut dekomposisi termal struktur kimia bahan organik dalam suhu tinggi, & produk menurut proses ini merupakan biochar, bio-oil, & syngas [2].Emisi karbon dioksida (CO2) ke atmosfer sudah sebagai perhatian kritis lantaran bisa mengakibatkan lebih poly perubahan iklim. CO2 menyumbang jumlah gas yg paling signifikan pada antara gas tempat tinggal kaca. Pembangkit listrik merupakan asal primer emisi CO2 industri lantaran mereka mengkonsumsi sejumlah akbar bahan bakar fosil buat membuat tenaga buat kegiatan & penggunaan manusia. Selain itu, CO2 merupakan gas asam yg bisa mengakibatkan hujan asam & korosi dalam pipa atau wadah yg dipakai pada sistem transportasi & penyimpanan. Untuk meminimalkan divestasi CO2 ke atmosfer, poly peneliti menggunakan benar-benar-benar-benar berusaha menemukan cara baru & terbaru buat memakai teknologi & bahan berpotensi tinggi buat menangkap CO2 secara efektif. Untuk proses industri, CO2 menjadi gas alam bisa diserap pada larutan monoethanolamine (MEA), diethanolamine (DEA), atau methyl diethanolamine (MDEA) [3]. Namun, proses ini kurang disukai lantaran volume akbar penyerap diharapkan buat menaikkan area hubungan antara gas & larutan berair, & risiko korosi alat-alat sanggup tinggi. Juga, tenaga yg sangat akbar diharapkan buat regenerasi penyerap, & poly limbah & lumpur yg didapatkan menurut proses tersebut. Atau, adsorpsi CO2 sang adsorben padat lebih nyaman buat ditangani tanpa perkara korosi [4,5].Karbon aktif dikenal luas menjadi bahan menggunakan kapasitas tinggi buat menyerap CO2 & bisa diproduksi menurut prekursor yg murah & melimpah misalnya biochar. Saat ini, para peneliti pula membicarakan bahwa karbon aktif bisa menangkap CO2 lantaran terdiri menurut area bagian atas yg akbar pada mana CO2 bisa teradsorpsi. Dari literatur, terbukti bahwa karbon aktif yg dibentuk menurut biochar yg mempunyai luas bagian atas & distribusi berukuran pori yg tidak sama menampakan kinerja penangkapan CO2 yg tidak sama [6,7]. Para peneliti berhasil menyebarkan prekursor yg tidak sama menurut bahan limbah yg melimpah, misalnya sisa pabrik kelapa sawit, menggunakan mempertimbangkan efektivitas porto pada produksi karbon aktif. Dengan demikian, sisa pabrik kelapa sawit dipilih menjadi prekursor buat produksi biochar melalui proses pirolisis pada penelitian ini. Produksi biochar menurut biomassa tergantung dalam parameter proses yg terlibat. Studi terkini mengenai pirolisis biomassa sudah membicarakan bahwa produksi biochar tergantung dalam beberapa faktor misalnya berukuran partikel biomassa, suhu pirolisis, laju genre gas pembawa, & faktor lain misalnya jenis reaktor & katalis [8,9]. Selain output biochar, sifat yg tidak sama menurut biochar pula sudah diperoleh lantaran syarat proses yg tidak sama misalnya suhu pirolisis, saat tinggal, & berukuran partikel. Untuk menerima output produksi biochar yg aporisma secara efisien, parameter proses pirolisis biomassa wajib dioptimalkan. Beberapa penelitian sebelumnya menyelidiki impak parameter proses terhadap output produksi bio-oil. Namun, syarat yg cocok buat produksi biochar menurut biomassa menggunakan pirolisis kurang dilaporkan buat pelaksanaan substansial.Metode konvensional buat menyelidiki eksperimen multivariabel/multifaktor umumnya mempertahankan faktor lain yg terlibat dalam taraf kontinu eksklusif namun nir mendeskripsikan imbas adonan menurut seluruh faktor yg terlibat. Untuk meningkatkan secara optimal sistem multivariabel, teknik ini umumnya memvariasikan satu faktor dalam satu saat. Mereka nir sanggup membicarakan hubungan atau imbas adonan antara faktor atau variabel. Metode ini memakan saat & pula memerlukan beberapa percobaan buat memilih taraf optimal, yg terkadang kita

